-
Belantara Foundation dan Resona Bank Jepang Tanam Pohon Langka di Tahura Sultan Syarif Hasyim16-Sep-2026 06:00RIAU – Belantara Foundation bersama mitra sektor swasta asal Jepang, Resona Bank Ltd., kembali memperkuat kolaborasi dalam upaya pemulihan ekosistem hutan terdegradasi. Keduanya melakukan penanaman bibit pohon secara simbolis di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), Provinsi Riau, Selasa (1/9/2026).
Penanaman simbolis tersebut menjadi yang kedua bersama Resona Bank Ltd. setelah sebelumnya dilakukan oleh jajaran top management pada 16 Juli 2024. Kali ini, kegiatan melibatkan jajaran middle management sebagai bagian dari kesinambungan komitmen sektor swasta dalam mendukung pelestarian lingkungan.
Gerakan penghijauan tersebut merupakan bagian dari Forest Restoration Project: SDGs Together, yang digagas melalui kolaborasi Belantara Foundation, Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura, serta Kelompok Tani Hutan mitra Tahura SSH.
Tiga jenis pohon ditanam dalam kegiatan simbolis tersebut, yakni kelat (Syzygium palembanicum), kandis (Garcinia parvifolia), dan balam (Palaquium hexandrum). Ketiganya merupakan jenis pohon yang tergolong langka sehingga keberadaannya perlu dijaga dan dilestarikan.
Dorong Peran Swasta dalam Pemulihan Hutan
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, mengatakan penanaman pohon tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, gerakan ini merupakan bagian dari upaya mendorong keterlibatan sektor swasta dalam pemulihan kawasan hutan terdegradasi sekaligus memperkuat aksi bersama untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Dengan tema Global Action for a Cooler Planet atau Aksi Global untuk Planet yang Lebih Sejuk, peringatan Hari Ozon Sedunia pada 16 September menjadi momentum penting untuk meningkatkan pemahaman seluruh elemen masyarakat, termasuk sektor swasta, mengenai pentingnya kolaborasi dalam menjaga dan melindungi lapisan ozon,” ujar Dolly.
Ia menambahkan, momentum tersebut juga dapat menjadi kesempatan bagi sektor swasta untuk mengambil bagian dalam restorasi lahan terdegradasi sekaligus mendukung Pemerintah Provinsi Riau dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca.
Menurut Dolly, pendekatan kolaborasi multipihak menjadi penting dalam pencapaian target pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk prinsip No One Left Behind.
“Sesuai dengan misi UNSDGs yaitu No One Left Behind dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, kami menggunakan pendekatan kolaborasi multipihak, salah satunya dengan menggandeng mitra sektor swasta dari Jepang untuk berkontribusi pada pemenuhan Nationally Determined Contribution (NDC) Pemerintah Indonesia dalam pengurangan emisi gas rumah kaca, khususnya di Pulau Sumatra,” kata Dolly yang juga pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.
Perkuat Kolaborasi dengan Pemangku Kepentingan Jepang
Representative Director APP Japan Ltd., Tan Ui Sian, mengatakan pihaknya akan semakin aktif mengajak berbagai pemangku kepentingan di Jepang untuk mendukung program Forest Restoration Project: SDGs Together.
Program tersebut saat ini berfokus pada sejumlah target SDGs, antara lain SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, SDG 13 mengenai penanganan perubahan iklim, SDG 15 tentang perlindungan dan pemulihan ekosistem daratan, serta SDG 17 yang menekankan pentingnya kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.
“Kerja sama dengan KPHP Minas Tahura telah memasuki tahap ke-6 dan bagi kami telah memberikan nilai tambah lebih besar untuk mengembangkan program dengan melibatkan semua pemangku kepentingan di Jepang,” ujar Tan.
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat terus berkembang sehingga semakin banyak pemangku kepentingan, baik dari Jepang maupun mancanegara, yang ikut mendukung program restorasi hutan di Indonesia.
Tahura SSH Hadapi Ancaman Deforestasi
Sementara itu, Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa Tahura SSH merupakan kawasan konservasi alam yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan pada 1999.
Kawasan tersebut memiliki luas lebih dari 6.000 hektare. Namun, sebagian wilayah Tahura SSH saat ini mengalami deforestasi dan degradasi akibat berbagai aktivitas ilegal, termasuk perambahan lahan dan pembalakan liar.
Sri mengatakan pihaknya terus berupaya mempertahankan sekaligus memulihkan fungsi kawasan melalui kegiatan perlindungan dan restorasi hutan.
“Upaya ini tentunya tidak bisa kami lakukan sendiri, namun perlu adanya kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pihak,” tuturnya.
Ia menyebut kerja sama KPHP Minas Tahura dengan Belantara Foundation dan pemangku kepentingan dari Jepang telah berlangsung sejak program Forest Restoration Project: SDGs Together digagas pada pertengahan 2022.
Program tersebut diharapkan mampu mempercepat pemulihan kawasan hutan terdegradasi sehingga ekosistem hutan kembali berfungsi secara optimal, terutama dalam mendukung adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Selain memulihkan ekosistem, kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk mendukung kontribusi Indonesia dalam memenuhi target Nationally Determined Contribution (NDC) melalui pengurangan emisi karbon, khususnya di Provinsi Riau.
Penanaman pohon langka di Tahura SSH pun menjadi simbol bahwa upaya menjaga hutan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga lingkungan, masyarakat, dan sektor swasta lintas negara menjadi salah satu kunci untuk memastikan pemulihan ekosistem dapat berlangsung secara berkelanjutan.

