-
Foto Oleh Belantara FoundationGenerasi Muda Indonesia dan Jepang Bersatu Merawat Biodiversitas Urban01-Aug-2026 03:55Menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 yang diperingati setiap 10 Agustus, aksi nyata pelestarian lingkungan digelar di jantung Kota Bogor. Belantara Foundation berkolaborasi dengan Universitas Pakuan dan PT Mitra Natura Raya (pengelola Kebun Raya Bogor) menyelenggarakan Belantara Biodiversity Class (BBC) di Kebun Raya Bogor pada Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan ini melibatkan 25 pelajar dan mahasiswa asal Jepang dari University of Tsukuba Senior High School at Sakado (UTSS), Ehime University Senior High School, dan University of Tsukuba. Mengusung semangat tema HKAN 2026, “Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia,” kolaborasi ini menegaskan bahwa menjaga keanekaragaman hayati kawasan perkotaan adalah tanggung jawab kolektif lintas batas negara dan generasi.
Edukasi Lapangan: Menelusuri Laboratorium Alam 87 Hektar
Rangkaian BBC diawali dengan *pre-test* untuk mengukur pemahaman awal para peserta mengenai flora dan fauna lokal. Didampingi fasilitator Belantara, tim dosen, serta mahasiswa dari berbagai program studi Universitas Pakuan—mulai dari Fakultas MIPA, KIP, hingga Sekolah Pascasarjana—peserta dibagi ke dalam empat kelompok eksplorasi.
Melintasi jalur pengamatan sepanjang satu kilometer di kawasan Kebun Raya Bogor, para peserta dibekali binokuler, panduan identifikasi, dan buku catatan lapangan. Mahasiswa dan dosen Prodi Bahasa & Sastra Jepang FISIB Universitas Pakuan turut memfasilitasi komunikasi sebagai penerjemah, memastikan transfer ilmu berjalan lancar.
Selama pengamatan, peserta mendata berbagai satwa liar seperti burung yang berperan sebagai penyebar biji (seeds dispersal), kupu-kupu sebagai penyerbuk alami (pollinator), serta herpetofauna (reptil dan amfibi) yang berfungsi sebagai pengendali hama (biokontrol). Spesies-spesies ini sekaligus menjadi bioindikator utama kualitas lingkungan perkotaan.
Sinergi Lintas Negara demi Masa Depan Bumi
Direktur Eksekutif Belantara Foundation sekaligus Pengajar Pascasarjana Universitas Pakuan, Dr. Dolly Priatna, menegaskan posisi strategis Kebun Raya Bogor yang seluas 87 hektar. Selain sebagai ruang terbuka hijau terbesar di Kota Bogor, kawasan ini berfungsi vital menjaga kualitas udara, mengendalikan iklim mikro, dan menjadi laboratorium alam.
“Pembelajaran langsung di lapangan memberikan pengalaman yang mendalam. Peserta tidak hanya mengenali kekayaan biodiversitas Indonesia, tetapi juga memahami pentingnya data sains sebagai dasar upaya konservasi,” ujar Dolly.
Dolly menambahkan bahwa konservasi tidak dapat berdiri sendiri tanpa kemitraan yang solid. Mengutip falsafah lingkungan, ia mengingatkan:
“Alam bukanlah warisan yang kita terima dari nenek moyang, melainkan titipan yang kita pinjam dari generasi yang akan datang. Kami berharap para peserta dapat menjadi Global Biodiversity Ambassadors yang menyebarkan semangat pelestarian ke seluruh dunia.”
Dukungan senada disampaikan oleh Yoshikazu Tatemoto, Head Teacher of International Studies UTSS at Sakado, University of Tsukuba. Ia menilai program edukasi praktis ini berhasil menjembatani teori akademis di kelas dengan realitas ekosistem di lapangan, sekaligus mempererat hubungan diplomasi lingkungan antara Indonesia dan Jepang.
Dari pihak pengelola, SPV Pengembangan Konservasi Kebun Raya Bogor, Saniyatun Mar’atus Solihah, mengungkapkan bahwa kawasan ini menampung hampir 12.000 spesimen tumbuhan hidup yang menjadi habitat utama satwa liar urban. Kemitraan ini membuktikan fungsi Kebun Raya Bogor tidak hanya sekadar destinasi ekowisata, melainkan pusat edukasi dan riset lingkungan yang berdampak global.
Kesan Peserta: Dari Teori Menjadi Kepedulian Nyata
Antusiasme tinggi dirasakan langsung oleh para peserta. Kobayashi Mia, perwakilan siswa UTSS at Sakado, mengungkapkan bahwa pengamatan langsung ini menyadarkannya betapa vitalnya peran setiap spesies dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Hal serupa diutarakan Yoshinaga Uta dari Ehime University Senior High School yang terkesan dengan keanekaragaman hayati di tengah kota, serta Kobori Hayato, mahasiswa University of Tsukuba, yang menekankan bahwa akurasi data lapangan adalah fondasi utama dari setiap aksi konservasi.
Eksplorasi di Kebun Raya Bogor ini membuktikan bahwa batas wilayah dan perbedaan bahasa tidak pernah menjadi penghalang untuk merawat bumi. Ketika generasi muda lintas negara turun langsung mengamati, mencatat, dan memahami denyut ekosistem urban, di situlah komitmen pelestarian alam tempaan masa depan dimulai. Kebun Raya Bogor telah menjadi saksi bahwa menjaga biodiversitas bukan sekadar wacana di atas kertas, melainkan janji hidup yang harus dirawat bersama demi keberlanjutan generasi mendatang.

