• Kala Mitigasi Konflik Gajah-Manusia Masuk Panel Diskusi IUCN World Conservation Congress
    22-Oct-2025 09:03

    Nationalgeographic.co.id—Upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Asia mendapatkan sorotan khusus dalam gelaran bergengsi IUCN World Conservation Congress di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), pada Sabtu, 11 Oktober 2025.

    Salah satu isu krusial yang diangkat adalah mitigasi konflik antara manusia dengan gajah sumatra melalui pendekatan koeksistensi.

    Dalam acara yang diselenggarakan di Asia Pavilion dan diinisiasi oleh Conservation Allies, sebuah organisasi konservasi dari Amerika Serikat, Belantara Foundation dan Universitas Pakuan dari Indonesia tampil bersama untuk mempresentasikan solusi inovatif mereka di hadapan audiens global.

    Belantara Foundation, yang menjadi mitra di antara enam organisasi konservasi Asia lainnya—termasuk dari India, Bhutan, Kamboja, Malaysia, dan Filipina—membawa isu mendesak mengenai nasib gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus).

    Gajah yang berstatus Critically Endangered (kritis) menurut IUCN Red List dan termasuk dalam Appendix 1 CITES yang melarang perdagangannya ini, terus menghadapi ancaman serius.

    Data historis menunjukkan penurunan populasi yang mengkhawatirkan: dari perkiraan 2.800–4.800 individu pada tahun 1980-an, menjadi 2.400–2.800 individu pada tahun 2007.

    Tren negatif ini berlanjut hingga periode 2007-2017, di mana populasi merosot 21,2%, setara dengan hilangnya sekitar 700 individu, sehingga tersisa 1.694–2.038 individu di tahun 2017.

    Bahkan, perhitungan pada tahun 2019 menunjukkan angka yang lebih rendah lagi, diperkirakan tinggal 928–1.379 individu yang tersebar di 23 kantong populasi.

    Apa yang menyebabkan penurunan drastis ini dan bagaimana koeksistensi dapat menjadi kunci untuk menyelamatkan salah satu mamalia terbesar di Indonesia ini?

    Merajut Harmoni di Lanskap Industri Sugihan-Simpang Heran

    Presentasi yang dibawakan oleh Belantara Foundation dan Universitas Pakuan, berjudul Coexistence in the Making: From Human–Elephant Conflict to Harmony in Industrial Landscape atau Mengupayakan Koeksistensi: Dari Konflik Gajah menuju Sebuah Harmoni di Lanskap Industri, mengupas akar masalah serta solusi yang diterapkan di Lanskap Sugihan-Simpang Heran.

    Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna, yang juga merupakan dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, menegaskan bahwa penurunan tajam populasi gajah disebabkan oleh tiga faktor utama: kehilangan habitat akibat alih fungsi kawasan hutan, perburuan, serta meningkatnya konflik antara manusia dengan gajah.

    Menurut Dolly, interaksi negatif yang semakin intens ini merupakan masalah serius. Interaksi yang sering merugikan ekonomi masyarakat, seperti rombongan gajah liar yang masuk desa dan memakan tanaman padi, secara langsung menurunkan toleransi warga terhadap kehadiran satwa dilindungi tersebut.

    Dolly menyoroti Lanskap Sugihan-Simpang Heran di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, sebagai kantong populasi yang sangat penting untuk masa depan gajah sumatra, dengan perkiraan populasi mencapai 100–120 individu.

    Lanskap seluas lebih kurang 600.000–700.000 hektar ini merupakan kawasan mosaik kompleks yang terdiri dari hutan tanaman industri, perkebunan kelapa sawit, sawah-ladang, pemukiman, serta hanya sekitar 75.000 hektar Suaka Margasatwa Padang Sugihan, yang berarti hanya 10–12% dari total luas lanskap. Kondisi ini menantang, apalagi gajah liar di sana hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah.

    Oleh karena itu, diperlukan strategi inovatif yang spesifik. Dolly menekankan bahwa selain mengoptimalkan fungsi koridor ekologis yang telah disepakati pemangku kepentingan, diperlukan juga upaya jitu untuk mengatasi rombongan gajah liar yang merusak tanaman masyarakat.

    "Diperlukan adanya komitmen yang sungguh-sungguh dari semua pihak agar hidup berdampingan secara harmonis antara manusia dengan gajah sumatra yang kita impikan bersama dapat terwujud,” ujarnya.

    Untuk mewujudkan koeksistensi ini, Belantara Foundation dan mitranya berfokus pada beberapa aspek prioritas.

    Ini mencakup peningkatan kapasitas bagi kelompok mitigasi konflik, penyediaan infrastruktur mitigasi seperti menara pemantauan, kegiatan penyadartahuan dan edukasi untuk anak-anak usia dini, serta pengayaan pakan dan penyediaan “artificial saltlicks” (tempat menggaram buatan) di kawasan hutan produksi sebagai tambahan nutrisi bagi gajah.

    Komitmen dukungan datang dari pihak internasional dan pemerintah. President of Conservation Allies, Paul Salaman, menyatakan bahwa panel ini ditujukan untuk mempromosikan upaya konservasi mitra-mitra di Asia dan menggalang dukungan global.

    "Kami berkomitmen kuat untuk mendukung program konservasi gajah sumatra yang dijalankan Belantara Foundation di Lanskap Sugihan-Simpang Heran... melalui hibah, penggalangan dana publik, serta peningkatan kapasitas yang dibutuhkan," tegas Paul, menjamin dana yang terkumpul akan dikelola secara transparan dan dialokasikan sepenuhnya untuk kegiatan lapangan.

    Sementara itu, Dirjen KSDAE Kemenhut RI, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, M.Agr.Sc., menyambut baik kemitraan Belantara Foundation dan Conservation Allies.

    Prof. Satyawan berharap inisiatif ini dapat mendukung upaya pemerintah dalam meminimalkan interaksi negatif manusia-gajah, dan mengubahnya menjadi sebuah koeksistemsi yang harmonis antara masyarakat dengan gajah sumatra di Lanskap Sugihan-Simpang Heran, sesuai dengan harapan yang tercantum dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

    Sumber: https://nationalgeographic.grid.id/amp/134310458/kala-mitigasi-konflik-gajah-manusia-masuk-panel-diskusi-iucn-world-conservation-congress?page=all