-
Ziarah di Laboratorium Alam, Mengintip Sang Penyintas yang Terancam22-Dec-2025 15:03Nationalgeographic.co.id─Hiruk-pikuk Jakarta Selatan seringkali menenggelamkan harmoni kecil yang tercipta di balik rimbunnya pepohonan Tebet Eco Park, Jakarta Selatan.
Di atas lahan seluas 7,3 hektar ini, alam sedang bekerja dalam senyap, mencoba memulihkan diri pasca-revitalisasi tahun 2021 yang menyatukan Taman Tebet Utara dan Taman Tebet Selatan menjadi satu kesatuan fungsional sejak April 2022.
Ruang terbuka hijau ini bukan sekadar tempat melepas penat, melainkan benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati perkotaan yang berjuang di tengah kepungan beton dan polusi.
Pada Sabtu, 20 Desember 2025, sebuah langkah nyata diambil melalui kolaborasi antara Belantara Foundation, Gaia Indonesia, Himpunan Mahasiswa Biologi Helianthus FMIPA, dan Wapalapa Universitas Pakuan.
Sebanyak 70 siswa dari 30 SMA sederajat se-Jabodetabek berkumpul dalam "Belantara Biodiversity Class" untuk mengasah kepekaan mereka dalam mendata burung, amfibi, dan reptil.
Namun, di balik semangat edukasi ini, terselip sebuah urgensi besar tentang sejauh mana ekosistem perkotaan kita mampu menopang kehidupan liar yang tersisa.
Bagaimana sebenarnya kondisi kesehatan ekologis taman yang mengusung konsep harmonisasi fungsi ekologi dan sosial ini?
Membaca Isyarat Alam di Jantung Kota
Pengamatan intensif yang dilakukan mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB berhasil mengungkap data yang kontras dengan catatan masa lalu.
Jika merujuk pada Dokumen Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Provinsi DKI Jakarta 2025-2029, kawasan ini sebelumnya mencatat 25 jenis burung, 2 jenis amfibi, dan 3 jenis reptil.
Namun, temuan terbaru di lapangan menunjukkan dinamika yang berbeda: tercatat 20 jenis burung, 1 jenis amfibi, serta lonjakan signifikan pada reptil yang mencapai 8 jenis.
Kehadiran satwa ini bukan sekadar ornamen taman, melainkan mesin biologis yang menjaga keseimbangan. Burung berperan sebagai penyebar biji, sementara amfibi dan reptil bertindak sebagai pengendali hama alami seperti serangga dan tikus.
Dr. Dolly Priatna, Direktur Eksekutif Belantara Foundation sekaligus pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, menekankan bahwa taman ini adalah laboratorium alam yang krusial.
“Sangat penting dilakukan pendataan potensi biodiversitas sebagai bahan monitoring dan evaluasi untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan di taman tersebut,” ujar Dolly yang juga merupakan anggota Commission on Ecosystem Management IUCN.
Namun, di antara kepakan sayap dan gerakan melata, terdapat sinyal bahaya yang nyata. Dari 20 jenis burung yang teridentifikasi, terselip burung betet biasa (Psittacula alexandri) statusnya dilindungi oleh Peraturan Menteri LHK Nomor P.106 Tahun 2018.
Secara internasional, Daftar Merah IUCN memberikan peringatan lebih keras: burung betet biasa berada pada status Near Threatened (Hampir Terancam), sementara burung kerak kerbau (Acridotheres javanicus) kini menyandang status Vulnerable (Rentan).
Kenyataan pahit ini menjadi pengingat bahwa para penyintas ini terus dihantui oleh kehilangan habitat, perburuan liar, hingga perubahan iklim global yang merusak produktivitas habitat mereka.
Upaya peningkatan kapasitas bagi generasi muda melalui kegiatan ini menjadi harapan agar pemutakhiran data terus dilakukan, memastikan bahwa pembangunan kota tidak harus mengorbankan indikator kualitas lingkungan yang paling jujur, yaitu keberadaan para penghuni liar yang menjaga keseimbangan ekosistem kita.

