• Global Tiger Day 2025: Ini 8 Kearifan Lokal Hormati Harimau Sumatra
    26-Jul-2025 10:09

    TEMPO.CO, Jakarta – Peringatan Global Tiger Day setiap 29 Juli menjadi momentum untuk menyoroti pentingnya konservasi harimau, khususnya harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang kini berstatus 'Critically Endangered' menurut Daftar Merah IUCN. Tema tahun ini, ‘Hidup Berdampingan Secara Harmonis antara Manusia dan Harimau’, menekankan pentingnya ruang hidup yang aman dan cukup bagi harimau agar tidak merasa terancam oleh aktivitas manusia.

    “Harimau sumatra saat ini berstatus kritis yang berarti sangat terancam punah jika tidak ada intervensi konservasi yang efektif,” ujar Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna, dalam keterangan tertulis, Jumat, 25 Juli 2025. 

    Pemerintah Indonesia telah melindungi harimau sumatra melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, serta mendorong koeksistensi manusia dan harimau lewat berbagai inisiatif. Termasuk pembentukan tim respons cepat konflik satwa liar, patroli perlindungan habitat, dan penerapan pendekatan berbasis kearifan lokal.

    Sebagai satu-satunya subspesies harimau yang masih tersisa di Indonesia, Dolly menerangkan, harimau sumatra menghadapi ancaman serius akibat menyusutnya habitat. “Masa depan harimau sumatra sangat bergantung pada luas dan kualitas habitatnya yang terus menyusut,” tuturnya.

    Untuk meminimalkan risiko kepunahan, kata Dolly, diperlukan pendekatan konservasi yang bisa diterima masyarakat. Dia menunjuk penguatan kearifan lokal yang telah hidup dan berkembang di masyarakat adat. “Cerita-cerita dan keyakinan lokal ini berperan penting dalam membentuk perilaku pelestarian hutan dan satwa,” ucapnya melanjutkan.

    Dalam keterangan tertulis yang sama, Ketua Forum HarimauKita Iding Achmad Haidir juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak. Menurut dia, konservasi tidak cukup hanya dengan pendekatan bio-ekologis, "tapi juga harus mencakup pemberdayaan ekonomi masyarakat dan partisipasi pelaku usaha."

    Kearifan Lokal dan Penghormatan terhadap Harimau

    Di berbagai wilayah Sumatra, harimau dipandang bukan hanya sebagai satwa liar, melainkan juga simbol spiritual dan penjaga alam. Beragam kearifan lokal berkembang yang bisa dimanfaatkan menjadi pendekatan strategis untuk pelestarian harimau sumatra.

    “Masa depan harimau sumatra tidak hanya bergantung pada penegakan hukum dan pengelolaan habitat, tapi juga pada pemahaman dan penghargaan terhadap nilai-nilai lokal yang telah lama hidup berdampingan dengan harimau,” kata Dolly.

    Berikut ini beberapa bentuk kearifan lokal yang berkembang di sejumlah daerah yang bisa dimanfaatkan pemerintah untuk konservasi harimau sumatra:

    •  Aceh: Harimau disebut “Rimueng” dan dipercaya menjaga makam tokoh keramat. Cerita rakyat menyebut Rimueng kerap muncul menjelang waktunya Salat Magrib di lokasi-lokasi tertentu.
    • Sumatra Utara: Harimau disapa “Ompung” yang berarti kakek. Legenda Babiat Sitelpang menjadi bagian penting dalam budaya setempat. “Kalau ada harimau terlihat dekat kampung, itu tandanya kami harus mawas diri, mungkin ada aturan adat yang dilanggar,” tutur Kholis Siregar, pemerhati lingkungan dari Sipirok.
    • Sumatra Barat: Harimau disebut ‘Datuak’ atau ‘Inyiak’ dan dipercaya sebagai roh leluhur. Ilmu bela diri silek harimau terinspirasi dari karakter satwa dilindungi ini, lengkap dengan senjata kerambit yang menyerupai cakar.
    • Riau: Masyarakat menyebut harimau “Datuk” atau “Inyiak” dan mengadakan ritual sebelum masuk hutan. Cerita Harimau Tengkes yang dipelihara Sultan Mahmud menjadi salah satu kisah yang diwariskan secara turun-temurun.
    • Jambi: Di Kerinci, harimau disebut Imaw Srabat atau Imaw Ulubalang. Masyarakat percaya harimau sebagai penjaga dan pelindung. “Kalau kami sebut harimau dengan kata sembarangan di hutan, itu sama saja tidak sopan,” ujar Ketua Lembaga Kerapatan Adat Nenek Empat, Desa Betung Kuning Hiang, Candra Purnama.
    • Sumatra Selatan: Harimau disapa “Puyang”, yang dimaknai sebagai leluhur dan pelindung alam. Merusak hutan dianggap sama dengan menyakiti sang Puyang.
    • Bengkulu: Warga menafsirkan serangan harimau ke ternak sebagai peringatan atas kesalahan manusia. Legenda “Tujuh Manusia Harimau” yang ditulis Motinggo Busye dan William Marsden memperlihatkan penghormatan mendalam masyarakat terhadap harimau.
    • Lampung: Tradisi “ngarak harimau” dilaksanakan sebagai ritual meminta izin sebelum masuk hutan. Praktik ini menunjukkan cara masyarakat adat menjaga harmoni dengan alam.

    Sumber: https://www.tempo.co/lingkungan/global-tiger-day-2025-ini-8-kearifan-lokal-hormati-harimau-sumatra--2051214#google_vignette