• Urai Tumpukan Masalah Sampah, Belantara Foundation dan Universitas Pakuan Gelar Diskusi Nasional
    14-May-2025 06:00

    Nationalgeographic.co.id-Permasalahan sampah yang tak kunjung usai menjadi sorotan utama dalam Belantara Learning Series Episode 12 (BLS Eps.12).

    Kegiatan yang diinisiasi oleh Belantara Foundation bekerja sama dengan Program Studi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan ini mengangkat tema strategis “Pengelolaan Sampah Berkelanjutan untuk Mendukung Ekonomi Sirkular, Mitigasi Perubahan Iklim dan Kesejahteraan Masyarakat”.

    Seminar nasional ini diselenggarakan pada Kamis, 8 Mei 2025, dengan format hybrid yang menggabungkan kehadiran luring di Auditorium Lantai 3 Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan di Bogor serta partisipasi daring melalui Zoom dan live streaming Youtube Belantara Foundation. Acara ini berhasil menarik perhatian lebih dari 1.100 peserta.

    Dukungan kuat datang dari berbagai pihak, termasuk Prodi Biologi FMIPA dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pakuan, serta mitra pengelola sampah seperti Bank Sampah Digital dan Bank Sampah Induk New Normal.

    Inisiatif menarik lainnya adalah kolaborasi dengan empat universitas – Universitas Pakuan, Universitas Riau, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Tanjungpura – yang memfasilitasi kegiatan “Nonton dan Belajar Bareng” bagi mahasiswa dan dosen mereka.

    Isu sampah memang telah menjadi persoalan global yang mendesak. Global Waste Management Outlook 2024 mencatat bahwa 38% sampah global belum dikelola dengan baik. Kondisi ini berkontribusi signifikan terhadap Triple Planetary Crisis: perubahan iklim (climate change), kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity loss), dan polusi (pollution).

    Strategi Terpadu dan Tanggung Jawab Kolektif

    Menyikapi tantangan ini, Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, menekankan pentingnya strategi terpadu dalam pengelolaan sampah demi mendukung mitigasi perubahan iklim dan ekonomi masyarakat secara lebih efektif. Strategi tersebut meliputi kampanye kesadaran publik, inovasi teknologi, reformasi kebijakan, dan partisipasi aktif masyarakat.

    “Ketika masyarakat diberdayakan untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab, mereka tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan tetapi juga membuka peluang ekonomi, yang mengarah pada masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan,” ujar Dolly.

    Ia menambahkan, “Pengelolaan sampah berkelanjutan bukan sekadar kewajiban lingkungan, tetapi juga merupakan langkah strategis menuju masa depan yang tangguh dan rendah karbon yang dapat menguntungkan semua orang baik di tingat lokal maupun global. Oleh karenanya, mari kita bekerja sama, berbagi pengetahuan, dan menerapkan solusi inovatif dalam membangun ekonomi sirkular, untuk merawat Bumi kita, serta sekaligus membantu membuka peluang untuk kesejahteraan masyarakat.”

    Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Bapak Dr. Hanif Faisol Nurofiq, yang diwakili oleh Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular, Bapak Agus Rusly, menyampaikan bahwa permasalahan sampah di Indonesia yang semakin membesar harus meningkatkan kesadaran bahwa setiap individu adalah penghasil sampah (emitter) yang bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan.

    Sampah, kata Agus, dapat memperparah pemanasan global karena menghasilkan gas rumah kaca, mengganggu ekosistem, serta berdampak pada kesehatan dan kualitas lingkungan. Ia menegaskan, pengarusutamaan prinsip pengelolaan sampah harus bergeser dari sekadar kumpul, angkut, buang menjadi pengelolaan yang mampu memanfaatkan sampah hingga praktik ekonomi sirkular berjalan efektif.

    “Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang didetailkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga menekankan bahwa seluruh pihak dimandatkan untuk mengelola sampah dari hulu ke hilir,” tegas Direktur Agus.

    Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2023 menunjukkan timbulan sampah nasional mencapai 56,63 juta ton/tahun. Dari jumlah tersebut, hanya 39,01% atau 22,09 juta ton/tahun yang berhasil dikelola, sementara 60,99% atau 34,54 juta ton/tahun tidak terkelola. Mirisnya, dari 550 Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Indonesia, sebanyak 306 atau sekitar 54,44% masih menerapkan sistem open dumping.

    Pendekatan Holistik dan Peran Generasi Muda

    Rektor Universitas Pakuan, Prof. Dr. rer.pol. Ir. Didik Notosudjono, mengakui bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar, khususnya di perkotaan dan pesisir. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan terpadu, lintas sektor, dan berkelanjutan yang melibatkan semua pihak dalam kerangka sistem holistik.

    Prof. Didik menguraikan empat kunci terwujudnya pengelolaan sampah berkelanjutan: komitmen regulatif dan politis pemerintah, perubahan perilaku individu dan komunitas, kemitraan lintas sektor yang aktif dan setara, serta pengembangan inovasi teknologi dan bisnis pendukung ekonomi sirkular.

    Peran krusial generasi muda dalam aksi pengurangan dan penanganan sampah ditekankan oleh Salli Atika Noor Rahma dari Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut. Ia mengajak generasi muda untuk berinovasi dan berpartisipasi aktif, menjadi agen perubahan dengan memilah dan mengolah sampah rumah tangga menjadi bernilai tambah. Senada, CEO Bank Sampah Digital, Desty Eka Putri Sari, menyoroti tantangan kesadaran masyarakat.

    “Banyak yang belum memahami bahwa sampah bukan hanya limbah, tetapi juga bisa menjadi sumber penghasilan dan solusi bagi lingkungan,” ujarnya. Desty meyakini, “Saya percaya, jika dikelola dengan baik, sampah bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sesuatu yang lebih bernilai”.

    Pandangan serupa disampaikan oleh Ketua Bank Sampah Induk New Normal, Yasra Al-Fariza, bahwa sampah memiliki nilai ekonomi. Pihaknya terus mengedukasi masyarakat, mulai dari mengurangi dan memilah, mendaur ulang, budidaya maggot, hingga pelatihan kerajinan tangan dari sampah.

    Sementara itu, Penggiat Advokasi Lingkungan sekaligus Aktor, Ramon Y. Tungka, mengajak generasi muda untuk bergerak mencegah kerusakan lingkungan melalui aksi kecil, seperti mengurangi plastik, memilah sampah, dan menjaga kebersihan saluran air. “Mulai menggunakan tumbler dan membawa tas dari rumah setiap belanja itu harus jadi gaya hidup sehari-hari,” pungkas Ramon.

     

    Sumber: https://nationalgeographic.grid.id/read/134250385/urai-tumpukan-masalah-sampah-belantara-foundation-dan-universitas-pakuan-gelar-diskusi-nasional?page=all