-
Belantara Foundation Ajak Mitra Sektor Swasta Jepang Tanam Pohon di Tahura Sultan Syarif Hasyim23-Aug-2024 07:53Trubus.id—Belantara Foundation mengajak Mitra Sektor Swasta Jepang, yaitu Vanfu menanam bibit pohon secara simbolis di kawasan Tahura SSH, Provinsi Riau, Rabu (21/08/2024).
Penanaman bibit itu juga bekerja sama dengan Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura dan Kelompok Tani Hutan Sultan Syarif Hasyim (KTH SSH) serta pemangku kepentingan setempat.
Penanaman simbolis yang didukung oleh APP Japan Ltd.- APP Group itu, juga dalam rangka menyemarakkan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati pada 10 Agustus.
Jenis bibit pohon dalam penanaman itu yakni balangeran (Shorea balangeran). Jenis itu termasuk dalam kategori pohon langka yang perlu dilestarikan.
Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) dari Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) menerbitkan Laporan Sintesis atas Laporan Penilaian Keenam mengenai situasi iklim terkini pada 2023.
Laporan itu menyebutkan bahwa terdapat pemanasan global di abad ini yang mencapai 1,1 derajat celcius dan berpotensi melampaui batas 1,5 derajat celcius jika tidak ada penurunan drastis pada emisi gas rumah kaca (GRK).
Bagi banyak negara, perubahan iklim itu telah terlihat dan seringkali melanda masyarakat yang paling rentan. Seiring berjalannya waktu, masyarakat di seluruh dunia makin khawatir dengan dampak perubahan iklim.
Namun, penyebaran pengetahuan tentang lingkungan hidup dan perubahan iklim yang tidak merata berpotensi menghambat beberapa upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna menuturkan bahwa saat ini dunia sedang menghadapi krisis lingkungan seperti triple planetary crisis, yang meliputi perubahan iklim, polusi, dan ancaman kehilangan keanekaragaman hayati.
Ia menuturkan banyak studi membuktikan bahwa perubahan iklim menjadi salah satu penyebab kehilangan keanekaragaman hayati global. Oleh karena itu penyelarasan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dengan aksi-aksi lain untuk mencegah polusi dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Salah satu aksi kecil namun berdampak besar yakni menanam dan merawat pohon, karena dapat membantu mengatasi triple planetary crisis secara paralel.
“Sesuai dengan misi dari UNSDGs yaitu No one left behind dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, kami menggunakan pendekatan kolaborasi multipihak, salah satunya dengan mengajak mitra sektor swasta dari Jepang untuk berkontribusi pada pemenuhan Nationally Determined Contribution (NDC) Pemerintah Indonesia untuk pengurangan emisi gas rumah kaca di Indonesia khususnya Pulau Sumatra,” ujar Dolly yang juga sebagai pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.
Chief Executive Officer Vanfu, Takayuki Suto menuturkan secara pribadi ia ingin melihat permasalahan lingkungan dapat ditangani dengan baik seperti dengan menanam dan merawat pohon.
“Sehingga generasi yang akan datang termasuk generasi anak cucu kita dapat menikmati kehidupan di alam yang lebih lestari dan berkelanjutan,” ujarnya
Ia menuturkan kegiatan penanaman pohon kali ini yang dilakukan bersama Belantara Foundation dan pemangku kepentingan lainnya memberikan kesan dan pembelajaran tersendiri yang amat mendalam.
“Vanfu akan selalu berupaya untuk mendukung gerakan penanaman pohon ini secara berkelanjutan,” ujar Mr. Suto.
Representative Director APPJ, Tan Ui Sian menilai setelah menjalankan program Forest Restoration Project: SDGs Together bersama APP Group dan Belantara Foundation sejak pertengahan 2020, tingkat kesadaran (awareness) multi-stakeholders di Jepang meningkat tajam, apalagi dengan melihat dampak yang sangat mengkhawatirkan akibat dari perubahan iklim ini.
Lebih lanjut, Tan menjelaskan bahwa pihaknya akan lebih gencar mengajak multi-stakeholders di Jepang untuk berpartisipasi dan mendukung program Forest Restoration Project: SDGs Together.
Program tersebut berfokus untuk mendukung target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan / Sustainable Development Goals (SDGs) ke 12 yaitu memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, target SDGs ke 13 yaitu mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya.
Target SDGs ke 15 yaitu melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem dan target SDGs ke 17 yaitu menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.
“Kerja sama program dengan KPHP Minas Tahura telah memasuki tahap ke-4 dan telah memberikan nilai tambah lebih besar bagi kami untuk mengembangkan program dengan melibatkan semua pemangku kepentingan di Jepang. Kami berharap dapat mengajak multi-stakeholders dari mancanegara lebih luas untuk mendukung program Forest Restoration Project: SDGs Together,” ujar Tan.
Pada waktu yang sama, Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, S.Sos., M.Si., menuturkan bahwa kawasan Tahura SSH merupakan kawasan konservasi alam yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 1999. Tahura SSH memiliki luas lebih dari 6.000 hektare.
Ia menuturkan sayangnya saat ini sebagian besar wilayah tersebut telah mengalami deforestasi dan degradasi. Pihaknya akan terus menjaga dan memulihkan fungsi kawasan Tahura SSH melalui kegiatan perlindungan dan restorasi hutan.
Sri Wilda menuturkan upaya itu perlu melibatkan kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pihak. Misal program yang digagas bersama Belantara Foundation dan pemangku kepentingan di Jepang pada pertengahan 2022 lalu, yaitu Forest Restoration Project: SDGs Together.
“Progam itu yang berupaya memulihkan kawasan hutan yang terdegradasi agar ekosistem hutan dapat berkontribusi untuk upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta mendukung pemenuhan Nationally Determined Contribution (NDC) Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi karbon di Provinsi Riau,” pungkas Sri.
Sumber: https://trubus.id/belantara-foundation-ajak-mitra-sektor-swasta-jepang-tanam-pohon-di-tahura-sultan-syarif-hasyim/

