-
Mangrove Mampu Mengurangi Krisis Iklim23-Dec-2019 06:10Di tahun ini, Konferensi Perubahan iklim COP25 berlangsung di IFEMA, Madrid, Spanyol. Konferensi yang diadakan setiap tahunnya ini diselenggarakan oleh UNFCCC 2 – 13 Desember 2019 mengusung tema 'Time for Action' yakni membahas langkah nyata mewujudkan artikel 6 Paris Agreement.
Pada konferensi ini, masih membahas menyangkut implementasi nationally determined contribution (NDC) pengurangan emisi dengan komponen penting dalam perjanjian ini yaitu untuk menahan kenaikan suhu rata-rata global seminim mungkin sehingga dapat mencegah dampak terburuk perubahan iklim. COP25 menyediakan panggung global bagi negara-negara yang siap melangkah dan berkomitmen dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan menetralisir karbon pada 2050.
Seperti tahun-tahun sebelumya, Belantara Foundation ikut berpartisipasi dalam Konferensi Perubahan iklim COP25 dan berkesempatan mengisi salah satu panel pada sesi ‘Akselerasi Rehabilitasi Mangrove di Indonesia’ yang digelar di Paviliun Indonesia Selasa (10/12/2019). Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Sri Mariati menegaskan bahwa Belantara Foundatin mendukung langkah Indonesia untuk bersama-sama merehabilitasi mangrove khususnya di klaster pesisir timur Sumatera.
Sri Mariati menuturkan bahwa Belantara Foundation sendiri sebelumnya telah melibatkan masyarakat desa untuk melakukan rehabilitasi mangrove seluas 51,16 hektar di delapan desa. Inisiatif rehabilitasi mangrove yang dilakukan Belantara Foundation yakni dengan melibatkan peranan masyarakat untuk memperkuat ketahanan masyarakat dari perubahan iklim.
Pada kesempatan ini Sri Mariati juga mengatakan bahwa hutan mangrove sangat penting untuk direhabilitasi karena kemampuannya untuk menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Hal tersebut tentu saja akan sangat berdampak pada pengendalian krisis iklim. Hutan sekunder mangrove diyakini dapat menyimpan 54,1-182,5 ton karbon per hektar, hal ini berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Sri Mariati menambahkan, program rehabilitasi mangrove yang dilakukan Belantara Foundation bukan hanya sekedar menanam saja, tetapi juga untuk tujuan ekowisata serta pemanfaatan produk dari mangrove yang berkelanjutan. Belantara Foundation akan terus melanjutkan dukungan rehabilitasi mangrove hingga mencapai 200 hektare pada tahun 2024.
Upaya pengendalian perubahan iklim dalam pencapaian target Paris Agreement memerlukan peran aktif dari berbagai aktor seperti pemerintah, masyarakat, pelaku bisnis, LSM, media dan tentunya generasi muda untuk melakukan aksi nyata dimulai dari sejak saat ini.
Penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim COP 25 memiliki urgensi dengan menampilkan aksi nyata pengendalian perubahan iklim melalui serangkaian topik dan program aksi keberhasilan dalam menghadapi isu perubahan iklim. Konferensi COP 25 UNFCCC diharapkan dapat menghasilkan “Katowice Package” yang merupakan sebuah terobosan yang bisa dibanggakan oleh semua negara, khususnya dalam hal memperkuat Perjanjian Paris dan membuka pintu bagi implementasi aksi pengendalian perubahan iklim di seluruh dunia.





