• Belantara Foundation Hadir di Pavilion Indonesia UNFCCC COP 24
    06-Mar-2019 16:28

    Konferensi Para Pihak ke-24 tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) atau yang biasa kita kenal dengan nama COP24 (UNFCCC) sukses digelar pada tanggal 2-15 Desember 2018 di Katowice, Polandia. Konferensi ini merupakan forum tertinggi untuk membahas status dan pengendalian perubahan iklim global khususnya dalam mencapai target-target seperti penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) serta program adaptasi perubahan iklim yang disebutkan dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) yang merupakan inti dari Paris Agreement pada COP21 tahun 2015 lalu.

    Seiring dengan konferensi UNFCCC, Indonesia juga menyelenggarakan “Pavilion Indonesia” yang bertujuan untuk menyampaikan perkembangan terkini upaya Indonesia dalam rangka mitigasi dan adaptasi perubahan iklim; mempromosikan inovasi dan aksi nyata Indonesia kepada dunia dalam pengendalian perubahan iklim; dan melaksanakan soft diplomacy dan membangun jejaring kerja para pihak dalam upaya pengendalian perubahan iklim, khususnya di tingkat internasional.

    Senada dengan tema COP-24 UNFCCC yaitu “Changing Together”, Paviliun Indonesia memiliki tema “Climate Change, Society Change: Let’s Work-Up and Team-Up”, agar semua pihak bersama-sama memutuskan untuk membuat perubahan. Paviliun Indonesia menampilkan 52 sesi diskusi panel dengan 225 pembicara serta dihadiri oleh hampir 3000 orang peserta diskusi selama penyelenggaraan selama 2 (dua) minggu, sejak tanggal 3 Desember 2018 s.d. 14 Desember 2018.

    Sebagaimana di tahun-tahun sebelumnya Yayasan Belantara hadir pada Pavilion Indonesia diwakili oleh Prof. Jatna Supriatna, Wakil Dewan Pembina Yayasan Belantara dan Dr. Sri Mariati, Direktur Eksekutif Yayasan dengan berkesempatan mengikuti 4 panel diskusi antara lain:

    Financing Climate Actions Through Partnerships
    Pada sesi ini, Yayasan Belantara menjadi salah satu panelis yang dengan bukti nyata melaksanakan pembiayaan aksi perubahan iklim dengan mitra di lapangan. Dr. Sri Mariati selaku Direktur Eksekutif Yayasan Belantara menjelaskan berbagai kegiatan yang dilakukan bersama mitra dan juga pencapaian hingga saat. Sesi ini juga menghadirkan Bpk. Prabianto Mukti Wibowo (KEMENKO Perekonomian), Bpk. Medrilzam (BAPPENAS, ICCTF), Riki Frindos (KEHATI) dan ibu Danae Maniatis (UNDP) dan Prof. Jatna Supriatna (I-SER UI) sebagai moderator.

    Forestry Private Sector Contribution to Climate Change Mitigation
    Peran sektor swasta harus dilibatkan dalam upaya pelestarian alam. Pada sesi ini, Yayasan Belantara yang di wakili oleh Dr. Sri Mariati, Direktur Eksekutif memaparkan kerjasama dengan APP Sinarmas dalam pengembangan ekowisata di Sembilang, Sumatera Selatan. Proyek ini memperlihatkan bahwa upaya konservasi dapat dilakukan bermitra dengan sektor swasta. Bergabung dalam sesi ini adalah Bpk. Wiratno (BKSDAE), Dr. Amanda Katili Niode (Climate Reality Project), dan ibu Elim Sritaba (APP Sinarmas) dan Prof. Jatna Supriatna (ISER-UI, Board Yayasan Belantara) sebagai moderator.

    Connecting People to Climate Actions
    Dengan kompleksnya permasalahan perubahan iklim, kerjasama menjadi aspek yang penting dalam melaksanakan kegiatan untuk aksi tersebut. Pada sesi kali ini, Yayasan Belantara mengemukakan kerjasama yang dilakukan dengan multi-pihak untuk membangun pengembangan ekowisata di Sembilang. Salah satunya adalah dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti. Bermitra dengan lembaga pendidikan ini, Yayasan Belantara mempersiapkan desa Sungsang di Sembilang untuk pengembangan produk lokal untuk menarik para wisatawan. Pada sesi ini turut bergabung Prof. DwikoritaKarnawati (BMKG), Ibu Fetty Asmaniati (STP Trisakti), Dr. Djanadi Bimo Prakoso (Yayasan Trisakti dan Ibu Herlina Hartanto (TNC). Bergabung kembali Prof. Jatna Supriatna (I-SER UI) sebagai moderator.

    Transforming Land and Food Systems for a Low Carbon Development in Indonesia
    Membahas aksi perubahan iklim maka akan membahas tentang upaya mitigasi, salah satunya adalah pengembangan teknologi alternatif rendah emisi. Pada sesi ini Yayasan Belantara membahas tentang salah satu kegiatan bersama mitra di Sumatera Selatan untuk implementasi pengurangan pemakaian pupuk kimia untuk pertanian, pembuatan biogas, pembuatan bioslurry, dan sistem pertanian terintegrasi. Prof. Rachmat Witoelar (staf khusus kepresidenan untuk perubahan iklim), Dr. Nur Masripatin (focal point UNFCCC), Prof. Jatna Supriatna (I-SER UI) dan Dr. Tri Handoko Seto (BPPT) juga bergabung dalam sesi ini.

    Keikutsertaan Yayasan Belantara dalam Pavilion Indonesia di COP 24 ini tentunya memberikan banyak manfaat. Antara lain adalah penyampaian informasi tentang Yayasan Belantara di khalayak yang luas dan juga menambah relasi untuk dapat bekerjasama dengan berbagai mitra yang lebih banyak lagi dalam upaya pelestarian alam Indonesia.