-
Mengajak Peserta MAB-ICC UNESCO Melihat Keindahan Alam Taman Nasional Berbak Sembilang06-Mar-2019 16:07
Tergabung dalam program MAB, Sidang The Man and Biosphere International Co-ordinating Council (MAB-ICC) yang merupakan acara ajang pertemuan tahunan dari negara-negara angota UNESCO. Digelar di Provinsi Sumatera Selatan. Menjadi tuan rumah sidang ke – 30 acara digelar pada tanggal 23 – 28 Juli 2018 di Hotel Novotel Palembang. Bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) acara ini sukses digelar.
Sidang ini memiliki fokus untuk membahas pembangunan dan pengembangan cagar biosfer sebagai pemulihan ekosistem dan juga program MAB sebagai wahana dalam mengimplementasikan untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Indonesia sebagai tuan rumah juga mengambil peran untuk megusulkan dan merekomendasikan 3 (tiga) cagar biosfer ke dalam nominasi cagar biosfer baru antara lain: Taman Nasional Berbak Sembilang di Sumatera Selatan dan Jambi, Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu di Kalimantan Barat dan Taman Nasional Gunung Rinjani Lombok, Nusa Tenggara Barat, karena dalam acara ini merupakan salah satu cara bagi Indonesia untuk mempromsikan keindahan alam Indonesia melalui cagar biosfernya.
Perlu diketahui pada sidang ICC MAB UNESCO ke- 30 Taman Nasional Berbak dan Sembilang beserta dengan Taman Nasional Betung Karihun Danau Sentarum, Kapuas Hulu dan Taman Nasional Gunung Rinjani di Lombok telah resmi ditetapkan sebagai Cagar Biosfer. Dengan ditetapkannya ketiga nominasi cagar biosfer baru dari Indonesia, maka menambah 3 lokasi cagar biosfer baru di Indonesia, yang sebelumnya sudah memiliki 11 lokasi sekarang menjadi 14 cagar biosfer di Indonesia.
Yayasan Belantara sebagai salah satu partner dalam acara ini, mengajak seluruh peserta sidang untuk mengunjungi salah satu kawasan cagar biosfer yang baru ditetapkan yaitu Taman Nasional Berbak Sembilang.
Diikuti oleh 190 peserta dari 124 Negara, field trip kali ini menyajikan pemandangan yang indah dimana kawasan sembilang ini berada di daerah pesisir pantai semenanjung Banyuasin merupakan tempat alami bagi tumbuhnya tumbuhan khas hutan mangrove, serta habitat berbagai jenis satwa seperti harimau sumatera, buaya muara dan berbagai jenis burung terutama burung migran yang berasal dari Siberia yang banyak ditemui di bulan-bulan akhir tahun.
Pada rangkaian field trip ini, para peserta diajak untuk mengunjungi salah satu desa di Kabupaten Banyuasin yaitu desa Sungsang, peserta disuguhkan dengan tarian tradisional dan juga welcome drink, coconut ice. Terdapat juga berbagai macam local community yaitu produk khas desa Sengsang hasil binaan dari SPTP Trisakti berkerjasama dengan Yayasan Belantara.Antusias dari para peserta field trip ini menjadi salah satu dampak positif bagi kalangan masyarakat, pemerintah, bahkan seluruh stakeholder yang terlibat, dimana antusiasme para peserta terhadap kegiatan field trip ini dapat menjadi sesuatu yang dapat diceritakan kepada teman, keluarga, maupun relasi di negera mereka masing-masing bahwa Taman Nasional Berbak Sembilang dapat menjadi detinasi yang wajib dikunjungi ketika berada di Indonesia.
Kegiatn field trip ini sekaligus menjadi ajang promosi Taman Nasional Berbak Sembilang sebagai salah satu ekowisata terbuka bagi wisatawan local maupun mancanegara.



