• Penerapan Strategi Early Warning Untuk Mitigasi Konflik Gajah dan Manusia di Desa Koto Pait Beringin, Area Hibah Giam Siak Kecil Bukit Batu (Gsk-bb)
    17-Apr-2018 16:03

    Yayasan Belantara memberikan dana hibah kepada konsorsium Ekosistem Senepis untuk menjalankan program konservasi khususnya perlindungan terhadap satwa yang terancam punah serta penanggulangan konflik gajah dan manusia yang terjadi pada area senepis. 

    Salah satu dukungan hibah ini dialokasikan untuk pembentukan tim mitigasi konflik yang dilaksanakan oleh mitra Yayasan Rimba Satwa di Desa Kotopait Beringin dalam mengatasi konflik gajah dan manusia yang berada di desa tersebut dengan harapan kawasan konservasi gajah dapat terlindungi dan area masyarakat  terhindar dari pengerusakkan oleh gajah.

    Berikut cerita dari contributor lapangan, Zulhusni Syukri – Ketua Tim Mitigasi Konflik Gajah – Manusia yang tergabung dalam Konsorsium Ekosistem Senepis, mitra pelaksana program Yayasan Belantara.

    Setelah mendapatkan kabar dari pak Brema Sitepu (ketua tim mitigasi konflik) mengenai kabar dimana kemungkinan kelompok gajah liar akan bergerak menuju desa Kotopait yang notabena adalah pemukiman warga, maka dengan cepat informasi tersebut disampaikan kepada warga dan menghimbau bahwa warga harus segera waspada. 

    Saat ini coordinator bapak Syafrinaldi tim patroli Rimba Satwa sedang berada di desa Melibur untuk mengikuti pergerakan kelompok gajah yang mulai mendekati Desa Kotopoait Beringin. Cuaca mendung diikuti oleh rintik gerimis membuat para kelompok gajah semakin bersemangat berjalan untuk mencari makan di sela-sela tanaman Akasia milik PT Arara Abadi yang berbatasan langsung dengan desa Kotopoait Beringin.

    Dua tim patroli terus memonitor pergerakan kelompok gajah dan pada batas desa dua tim patroli lainnya bersama dengan bapak Samsuardi (Sam Gajah) dibantu oleh masyarakat setempat menyususn startegi penggiringan kelompok gajah.

    © Rimba Satwa
    © Rimba Satwa

    Lengkingan suara terompet sang pemimpin gajah memanggil kelompoknya mulai terdengar dan membuat tim patroli beserta masyarakat semakin bersiaga, tepat pukul 19.03 wib kelompok gajah liar terlihat mendekat perkebunan warga, dan tim patroli bersama tim mitigasi masyarakat memulai melakukan penggiringan dengan membunyikan meriam yang berdentum keras, meriam diaktifkan bersamaan oleh 5 orang tim mitigasi yang sudah berbaris dengan jarak interval 3 meter perorang sembari berjalan kearah gajah untuk mengarahkan kelompok gajah menjauh dari kebun masyarakat.

    © Rimba Satwa

    Dengan koordinasi dan komunikasi yang telah dibangun dengan baik, kelompok gajah liar yang berjumlah 35-40 ekor dapat digiring kembali kedalam Hutan Tanam Industri yang berbatasan langsung dengan perkebunan warga pada pukul 21. 45 wib. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh tim untuk makan malam dan berdiskusi dengan masyarakat, dan berselang satu jam kelompok gajah kembali berusaha masuk perkebunan masyarakat. Kali ini tim dibuat kerja ekstra karena kelompok gajah masuk secara bersamaan dan terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil, tetapi dengan adanya pendampingan yang diberikan, kekompakan dan kepercayaan diri dari masyarakat yang tumbuh, kami dapat menggiring kelompok gajah sejauh 2 KM menjauh dari pemukiman masyarakat dan bekerja hingga pukul 03.00 WIB.

    © Rimba Satwa

    Upaya dalam menghadapi kelompok gajah liar dapat saja melukai tim dan juga masyarakat jika tidak dihadapi dengan cara dan teknik yang benar. Pekerjaan kita belum selesai sampai disini, saat ini tim RSF bersama dengan BKSDA dan masyarakat Desa Tasik Serai sedang berjibaku dengan kelompok gajah liar yang mendekati pemukiman masyarakat.

    Masyarakat sangat mengapresiasi dengan apa yang dilakukan oleh tim Rimba Satwa karena belum pernah sebelumnya ada perhatian ataupun tindakan seperti ini dilakukan di desa ini.