• Belantara Foundation Promosi Program Forest Restoration Project: SDGs Together di Pameran EcoPro 2022, Jepang
    28-Dec-2022 10:07

    Belantara Foundation berpartisipasi pada Pameran EcoPro 2022 yang digelar di Tokyo Big Sight (Tokyo International Conference Center), East 6 Hall 6-033, Jepang dari tanggal 7 hingga 9 Desember 2022. Tema Pameran EcoPro ke-24 yang diadakan tahun ini adalah “Tackle Environmental Challenges and Achieve the Sustainable Development Goals (SDGs) for a Sustainable Society”. Pameran EcoPro merupakan acara pameran terbesar kedua di Jepang. Pada kesempatan ini, Belantara Foundation hadir bersama Asia Pulp & Paper Japan Ltd. (APPJ) untuk mempromosikan program bersama yaitu “Forest Restoration Project: SDGs Together” kepada dunia internasional. 

     

    Belantara Foundation didukung oleh APPJ menggagas program restorasi bernama “Forest Restoration Project: SDGs Together” di wilayah Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Riau. Program restorasi yang dilakukan yaitu dengan menanam spesies pohon asli (native spesies) terancam punah di Hutan Sumatra yang telah terdegradasi akibat aktivitas ilegal manusia dan kebakaran hutan. Spesies pohon yang ditanam antara lain ramin (Gonystylus bancanus), lopostemon (Lophostemon sp.) dan geronggang (Cratoxylon arborescens). Dukungan pendanaan dari APPJ berasal dari skema donasi yang berasal dari sebagian penjualan produk yang dibuat oleh produsen kertas Indonesia, APP (termasuk beberapa produk pabrik APP China) beserta mitra usaha APPJ. Program ini dimulai pada Agustus 2020.

     

    Pada tahun 2022, Belantara Foundation bekerja sama dengan APPJ, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura, Kelompok Tani Hutan (KTH) Tahura Sultan Syarif Hasyim dan pemangku kepentingan setempat mengembangkan kegiatan restorasi. Kegiatan restorasi melalui agroforestri dengan menanam jenis tanaman multi manfaat (multi purposes tree species) dan pohon asli terancam punah di Tahura Sultan Syarif Hasyim, Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Provinsi Riau.

     

    Jenis tanaman multi manfaat yang ditanam antara lain pinang, jengkol, nangka, gempol, ketapang, matoa, petai, mahoni, gaharu, dan jenis lainnya. Melalui metode ini diharapkan masyarakat mendapatkan manfaat sosial - ekonomi sekaligus memperbaiki kualitas lahan gambut. Selain itu, jenis pohon asli terancam punah yang ditanam yaitu balangeran dan geronggang. Dalam dua tahun terakhir, telah dilakukan penanaman lebih kurang seluas 47 hektar, memasang papan nama proyek, membangun rumah pembibitan, memberikan peningkatan kapasitas bagi masyarakat serta melakukan monitoring dan evaluasi.

     

    Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan bahwa restorasi ekosistem merupakan salah satu isu global yang penting saat ini. Sidang Majelis Umum PBB telah mendeklarasikan UN Decade on Ecosystem Restoration untuk mensinergikan upaya restorasi ekosistem secara masif pada ekosistem yang rusak dan terganggu pada periode 2021-2030.  

     

    Restorasi ekosistem dianggap sebagai salah satu langkah efektif untuk memitigasi perubahan iklim dan meningkatkan ketahanan pangan, menjaga suplai air serta melindungi keanekaragaman hayati. Restorasi ekosistem secara umum akan memengaruhi dan memperbaiki kualitas lingkungan, termasuk kualitas udara, kualitas air, pohon, tanah, serta habitat dan populasi satwa liar. Restorasi juga dapat mengembalikan fungsi pengaturan tata air dan iklim mikro suatu ekosistem. Restorasi ekosistem yang berhasil akan mampu mencegah atau mengurangi berbagai macam risiko kerusakan lingkungan seperti erosi, tanah longsor, tercemarnya sumber air, turunnya muka air tanah, kebakaran lahan, polusi udara dan lain-lain.

     

    “Selain itu, restorasi ekosistem juga perlu memperhatikan dimensi sosial-ekonomi masyarakat. Restorasi ekosistem tidak hanya mengembalikan fungsi ekologis tetapi juga mengembalikan fungsi hutan sebagai sumber mata pencaharian yang berkelanjutan bagi masyarakat. Dengan tata kelola yang tepat, restorasi ekosistem dapat mendukung pemulihan fungsi hutan sebagai penyedia manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat”, kata Dolly, yang juga seorang pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.

     

    Direktur Representatif APPJ, Tan Ui Sian mengatakan bahwa Forest Restoration Project: SDGs Together merupakan salah satu bentuk dukungan dan langkah nyata APPJ untuk berkontribusi dalam restorasi ekosistem di wilayah Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Riau, yang akan dilakukan secara berkelanjutan hingga 2023. 

     

    “Forest Restoration Project: SDGs Together juga mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) ke 12 yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab menjamin pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan meraih pertumbuhan ekonomi dan pembangunan;  target SDGs ke 13 yaitu mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya; target ke-15, yaitu melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem; dan target SDGs ke 17, yaitu menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan”, imbuh Tan.

     

    Kepala KPHP Minas Tahura, Matnuril mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik dan mendukung penuh upaya restorasi ekosistem yang dilakukan bersama Belantara Foundation dan KTH Tahura Sultan Syarif Hasyim yang didukung oleh APPJ dan pemangku kepentingan yang lain.

     

    “Upaya ini diharapkan akan mampu memberikan kontribusi signifikan bagi penambahan luasan kawasan hutan yang dipulihkan di Provinsi Riau”, kata Matnuril.

     

    Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kehutanan No. SK.159/Menhut-II/2004 tentang Restorasi di Kawasan Hutan Produksi (IUPHHK Restorasi Ekosistem) mendukung adanya partisipasi sektor swasta dalam pemulihan ekosistem yang telah terdegradasi.  

     

    Atase Kehutanan KBRI Tokyo Jepang, Dr. Zahrul Muttaqin mengatakan bahwa upaya kerja sama antara sektor swasta di Indonesia dan Jepang untuk mendukung program restorasi hutan terdegradasi di Indonesia terutama di Sumatra patut diapresiasi dan ditingkatkan. Dalam hal ini, KBRI Tokyo Jepang melalui Atase Kehutanan siap menjembatani kerja sama tersebut.

     

    “Kami berharap dukungan untuk restorasi hutan terdegradasi di Sumatra, tidak hanya dari kerja sama antar sektor swasta namun juga dapat mendorong kerja sama antar komunitas di Jepang dan Indonesia terutama pelibatan generasi muda di Indonesia dan Jepang. Selain itu, langkah nyata APPJ dengan melibatkan siswa SMA di Jepang patut diapresiasi dan didukung lebih lanjut”, ungkap Zahrul.