-
Pertemuan Koordinasi Pengelolaan Cagar Biosfer GSK-BB22-Mar-2022 05:33Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (CB GSK-BB) merupakan cagar biosfer yang memiliki kawasan berupa ekosistem asli hutan gambut tropis yang unik. Selain memiliki danau-danau kecil (tasik), kawasan ini juga memiliki fungsi hidrologis, sebagai penyeimbang ekosistem dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. CB GSK-BB memiliki luas kawasan sekitar 705.271 Ha. Area intinya seluas 178.722 Ha meliputi 2 suaka margasatwa dan kawasan hutan produksi yang dikonservasi dalam jangka panjang. Luas zona penyangga adalah 222.426 hektar dan area transisi seluas 304.123 hektar.
Cagar biosfer GSK-BB ini merupakan cagar biosfer pertama di Indonesia yang pengusulannya dilakukan dari bawah (bottom up) oleh para pihak kunci di kawasan tersebut. Para pihak kunci tersebut antara lain BBKSDA Riau, SMF/APP, dan Pemerintah Provinsi Riau yang didukung oleh LIPI, beberapa perguruan tinggi, masyarakat lokal, NGOs dan Komite Nasional MAB-UNESCO Indonesia. Pengusulan kawasan GSK-BB sebagai kawasan cagar biosfer tersebut selain dipicu oleh deklarasi Madrid. Deklarasi Madrid menyebutkan bahwa kemitraan strategis antara pemerintah, masyarakat dan swasta menjadi kunci bagi suksesnya mengimplementasikan konsep cagar biosfer di suatu negara.
Pengusulan CB GSK–BB juga didorong oleh rasa prihatin dengan kondisi ekosistem rawa gambut yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Di kawasan ini, ekosistem rawa gambut terancaman oleh perambahan kawasan, penebangan liar, kebakaran hutan dan lahan, dan kegiatan illegal lainnya. Di samping itu, kesejahteraan dan pendidikan masyarakat di kawasan ini juga rendah dan lapangan kerja terbatas. Masyarakat yang tinggal di kawasan cagar biosfer berpotensi tinggi menemui konflik manusia dengan satwa liar (harimau, gajah). Ditambah lagi, sumber daya alam terbatas pengelolaan kawasan konservasi Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil dan Suaka Margasatwa Bukit Batu.
Pengembangan cagar biosfer GSK-BB adalah merupakan wujud kerjasama kolaboratif antara para pihak kunci di kawasan. Para pihak kunci tersebut antara lain pemerintah daerah (Provinsi Riau, Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BBKSDA Riau), Lembaga Riset seperti LIPI yang sekarang BRIN, Perguruan Tinggi, APP Sinarmas, NGOs dan masyarakat lokal di kawasan ini yang didukung oleh Komite Nasional Program MAB-UNESCO Indonesia.
Pengelolaan dan proses pengembangan kawasan cagar biosfer GSK-BB secara garis besar diperuntukkan untuk kepentingan konservasi kawasan gambut dan keanekaragaman hayatinya, pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pengembangan logistic support seperti riset, peningkatan SDM, monitoring dan evaluasi dan aspek pendukung lainnya. Pengelolaan cagar biosfer GSK-BB ini didasarkan pada hasil kajian ilmiah untuk mendukung kegiatan konservasi dan pengembangan ekonomi dan diakui secara internasional untuk mendemonstrasikan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals).
Dalam rangka mewujudkan kolaborasi dan kerjasama antar para pemangku kepentingan di tengah kondisi pandemi Covid-19 ini, MAB Indonesia-BRIN, BBKSDA, Pemerintah Daerah, Badan Koordinasi Pengelolaan Cagar Biosfer GSK-BB dan Belantara Foundation bekerja sama untuk menyelenggarakan “Pertemuan Koordinasi Pengelolaan Cagar Biosfer GSK-BB” secara daring. Pertemuan yang melibatkan para pihak kunci dan para pihak yang bekerja di kawasan cagar biosfer ini bertujuan agar para pihak dapat saling berbagi informasi, pengalaman, koordinasi dan konsolidasi, serta persiapan penyusunan periodic review yang telah terlambat 2 tahun akibat pandemic Covid-19.
Pertemuan ini diharapkan dapat mendukung data penyusunan periodic review CB GSK-BB dan dapat memfasilitasi penyusunan sinergitas kegiatan antara para pihak di CB GSK-BB di tahun 2022. Oleh karena itu, kegiatan pengembangan di kawasan GSK-BB di masa mendatang dapat lebih terintegrasi dan efisien. Kegiatan pertemuan ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 25 Januari 2022 pada pukul 08.30 – 13.00 WIB secara daring (zoom meeting).
Narasumber dari pertemuan ini meliputi para pihak yang memiliki program kerja baik di kawasan area inti, zona penyangga dan area transisi CB GSK-BB, di antaranya perwakilan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan NGOs.
Pertemuan ini membahas tentang permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pengembangan CB GSK-BB; penyusunan strategi dan program pengembangan CB GSK-BB; dan melakukan pemetaan kegiatan para pihak dalam rangka sinergi dan koordinasi pelaksanaan kegiatan pengembangan CB GSK-BB sebagai wahana pembangunan berkelanjutan di kawasan ini.
Prof. Purwanto (Direktur Eksekutif, Komite Nasional MAB-UNESCO Indonesia, BRIN) menyatakan bahwa “Kami telah mengidentifikasi permasalahan dan tantangan yang sangat rumit terkait dengan pembangunan dan pengembangan CB GSK-BB sejak dari awal penyusunan nominasi kawasan ini sebagai kawasan cagar biosfer. Terutama masalah kegiatan illegal di kawasan ini, seperti pembalakan liar, perambahan, perburuan liar, konflik tenurial, konflik manusia dengan hewan liar, kebakaran hutan, dan masalah lingkungan. Kondisi yang sangat rumit tersebut justru membuat antusiasme para pihak kunci untuk berusaha menjadikan kawasan ini sebagai kawasan yang pengelolaannya mengimplementasikan konsep cagar biosfer” ujarnya.
“Pembangunan dan pengembangan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu diharapkan mampu mengurangi kegiatan illegal dan menjadi titik awal kawasan ini dikelola secara berkelanjutan. Upaya menerapkan konsep cagar biosfer yang telah dilakukan selama lebih dari 10 tahun di kawasan ini telah mampu mengurangi laju degradasi kawasan ini. Walaupun kegiatan illegal masih terjadi di kawasan ini” tambah Prof. Purwanto.
Upaya pengembangan CB GSK-BB sebagai kawasan untuk mendemonstrasikan pembangunan berkelanjutan akan terus dilakukan sekuat tenaga dan segala upaya melalui berbagai strategi dan skema pengembangan dengan mengedepankan pengelolaan multipihak, pendekatan ekosistem bentang alam, melibatkan para pihak dan masyarakat tempatan, memperkuat partnership, menerapkan kaidah ilmiah dan pengembangan iptek dan inovasi, dan menerapkan adanya perbaikan terus-menerus.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation menambahkan bahwa Belantara mendukung penuh program-program di CB Giam Siak Kecil-Bukit Batu. Belantara juga secara aktif akan melaksanakan kegiatan proteksi dan restorasi hutan, konservasi biodiversitas, pemberdayaan masyarakat, dan aksi iklim, terutama di CB GSK-BB.
Dalam acara ini, turut hadir Hans Dencker Thulstrup Senior Programme Specialist Water Environmental Sciences, UNESCO Office; Kepala Bappeda Provinsi Riau; Direktur Pengelolaan KK KSDAE KLHK; Kepala OR IPH/Pusat Riset Biologi BRIN; Kepala Balai Besar KSDA Riau; APP Sinar Mas; Universitas Riau; Project ITTO GSK-BB; Cagar Biosfer di Indonesia; perwakilan LSM terkait; dan lain sebagainya.

